Senin, 23 Desember 2019

Simbok Atau Ibu



SIMBOK/IBU💞💕

Simbok/Ibu dalam khsanah adat Jawa, adalah sosok perempuan yang meresapi kedudukan socialnya dalam kehidupan rumah tangga keluarga orang Jawa.

Simbok adalah Perempuan Jawa yang biasanya masih terpateri dengan “atribut” menurut, mengalah, nrima, dan sederet kepasrahan berkonotasi inferior.

Simbok mengajarkan kepada anak perempuannya untuk berperilaku kalem, lemah-lembut, duwe isin, bersahaja, sopan, dan gemulai. Simbok berharap anak perempuannya perilaku dan busananya sesuai dengan adat perempuan Jawa. Stigma inferior tadi menjadi sebuah kewajaran mengingat kuatnya konsep patriarki pada budaya Jawa.
gambar hanya ilustrasi


Apakah dengan cengkeraman budaya patriarki, simbok tidak berdaya lahirkan generasi handal? Ternyata banyak Simbok dari desa Jawa melahirkan generasi berkararakter unggul, dan memiliki peranan signifikan dalam lingkungan rumah tangga, masyarakat, maupun negara. Simbok yang konon dicengkeram budaya ptriarki ini, tak selamanya mengalami keterkungkungan sehingga tidak bisa lahirkan generasi yang unggul.

Bahkan ada juga yang berada di garda terdepan memberi pencerahan, keluaga, dan masyarakatnya. Simbok tetap berpijak pada filosofis masyarakat Jawa, bahwa Wanita dimaknai dengan wani ditata dan sekaligus wani nata.

Dalam pengertian wani ditata, wanita mesti melaksanakan perintah suami. Wani nata, wanita terampil, dan cekatan mendidik dan menata anak-anak dan kenyamanan rumah tangganya. Simbok menjadi wanita yang wani (Berani) memberi pertimbangan atas pemikiran dan kehendak suami sehingga tercipta keputusan yang baik. Kerja sama layaknya sebuah tim antara suami dan istri menjadi kunci keharmonisan rumah tangga dan kemaslahatan masyarakat.

Sejarah banyak mencatat dengan tinta emas sepak terjang istri-istri Jawa yang melebihi lelaki.

Figur simbok tidak bisa dibandingkan dengan mama dalam feminisme Barat. Di balik keterbatasan harta, tingkah dan perilaku perempuan Jawa tersebut, terdapat keunikan tersendiri yang menjadikan identitas yang unik bagi perempuan Jawa. Perempuan dari keluarga Jawa tidak merasa adanya keterkekangan karena nilai dan norma yang ditanamkan sejak kecil itu membuat mereka berhati-hati dalam kelola rizqi, bertutur kata, juga bertingkah laku. Maka jika dilihat dalam kacamata budaya timur, tingkah laku para perempuan Jawa yang cenderung , hati-hati, gemi nastiti, jujur, bersahaja, mengalah, menerima dan bersikap manis dimanapun ia berada adalah sebuah keteraturan sosial. Itulah kunci keberhasilan simbok dalam melahirkan generasi berkarakter Indonesia yang unggul.
Disqus Comments